Seperti biasa, para narapidana menuju ke daerah kerja mereka dengan muka lelah.
Setiap hari aku terbangun dengan sinar mentari, memakan makananku, dan saat sang surya tenggelam, setelah menyelesaikan makan malam dan mandi, aku kembali ke selku. Dari sisi lain, kehidupan ini bagaikan kehidupan tanpa kebebasan, tetapi di waktu luang diantara jadwal yang sangat ketat, setiap orang dapat melakukan apapun yang mereka inginkan. Bagi Penjira, itu adalah berjudi. Dan bagi Jiji, suatu permainan menebak jadwal patroli Menou.
"Oh ya!!! Kemenangan lain hari ini"
Lantai kayu koridor mulai berderik, Jiji mengangkat tangannya ke udara dan berteriak "INI SUDAH HARI KE SEPULUH SECARA BERTURUT TURUT!"
"Jiji, persepsimu tidak mungkin lebih bodoh lagi. Ini baru tiga hari sejak aku melihat Menou di malam hari, " Ganno berkata saat punggungnya menegang dan ia kembali fokus mengecat kukunya.
Di malam hari, Jiji merenung apakah Menou akan datang untuk berpatroli di barak para narapidana atau tidak, datang untuk memastikan para narapidana tetap berada di tempat mereka. Ganno dan Penjira pada akhirnya tanpa sadar memperhatikan kebiasaan patroli Menou. Tidak seperti para sipir yang wajahnya muncul di waktu-waktu tertentu, Menou terlihat lebih tidak konsisten.
"Hewan itu tenang, itu kepastiannya. Aku pernah memliki seorang kekasih yang memiliki hobi menunggang kuda jadi aku bisa memberitahumu banyak hal."
Tanda kemunculan Menou mulai muncul, mulut Penjira mulai berubah menjadi mengerut. Walaupun ia senang bermain permainan terhadap Menou, tetapi dia membenci kehadiran Menou.
"Jiji, kau sering bermain permainan terhadap Menou, apa kau tidak takut?"
"Bodoh. Tenang saja. Selama aku tidak melanggar aturan, Menou tidak akan menyerangku."
Bayangan besar menutupi lentera yang berada dalam sel. Terlihat seperti penjaga, tetapi figure Menou yang besar berjalan pelan mendekat.
"Lihat.. perhatikan ini."
Jiji mengambil sebatang ranting yang digunakan Ganno untuk melukis, lalu mengeluarkannya melalui sela-sela jeruji besi, membuat ujungnya bergoyang ke arah Menou. Mata kuning bergerak searah dengan gerakan daun yang berada di ranting.
"Ayo..." Jiji berbisik lembut.
Menou mendekati sel dengan pelan, ia menelan ludahnya saat ujung hidungnya tersentuh dengan daun yang bergoyang. Menou seakan bertindak seperti kucing yang manja.
"Ia benar-benar datang.."
Tercengang dan terkagum, Penjira berbisik, "Huh.. bagaimana bisa?"
"Kadal ini selalu berbaring di bawah pohon almond, sejujurnya aku berpikir ia tidak makan buah, tetapi ia selalu tercium seperti buah. Mungkin ia telah menyentuh beberapa buah."
Penjira melompat mengalihkan pandangannya,
"apa?"
"Kau gila! Tidak mungkin dia dapat menahan dirinya... dan, aku ingin menjaga keutuhan tanganku."
"Sasuke, cobalah ke sini."
"Aku akan mendapat masalah jika kehilangan tangan kananku juga."
"Aku tidak akan kesana."
Dengan helaan nafas, Jiji melihat Ganno, "aku yakin ini baik-baik saja."
Ganno mengesampingkan kuasnya dan berdiri dari tempat duduknya. Dengan pelan menjulurkan lengannya yang terbakar matahari dan kurus melalui sela-sela jeruji besi, ujung jarinya yang lancip menyentuh dahi Menou. Setelah beberapa sentuhan di kulitnya yang tertutupi sisik kasar, mata lancip Menou berubah menjadi besar dan membulat.
"Oooohhh... mengagumkan." Penjira berdiri dengan mata terbuka lebar dan terkagum.
"Ayo Sasuke. Kau harus mencobanya juga."
"Tidak. Hentikan itu,"
Sasuke menggelengkan kepalanya terhadap paksaan dari Ganno. Jika Menou mengingat bahwa ia sedang lapar, ia akan memakan Sasuke atas dasar balas dendam. Melihat keberhasilan Ganno, Penjira berdiri sembari berkata "aku akan mencoba sebentar," dia ingin mencobanya sendiri.
"Lihat."
Ganno memberikan tempat untuk Penjira, Penjira menggenggam jeruji besi dan ranting tersebut lalu mengeluarkan tangannya, jari kakinya sedikit menonjol keluar dari pembatas yang tidak terlihat antara ruangan sel mereka dan lorong di hadapan mereka.
Dengan cepat, mata Menou berubah menjadi normal.
"Kembali!"
Sebelum Sasuke dapat bergerak, Jiji yang berada terdekat dengan Penjira menarik bahu Penjira dan menarik Penjira ke dalam saat Menou melompat ke depan, menabrak jeruji besi pintu sel. Di dekat celah jeruji besi, cakar Menou menjatuhkan lentera yang terletak di lantai.
"Gyaaa..hn."
Menou berteriak melengking, tertutupi minyak panas dari lentera yang ada di lantai. Dengan cepat berlari di lorong untuk melarikan diri. Sementara itu, lentera yang terkena Menou hancur berkepingkeping. Untungnya api yang timbul dari lentera tersebut tidak membakar lantai yang membeku.
Penjira berdiri kembali menuju jeruji besi masih dengan wajah pucat pasi,
"Ya ampun... tadi sangat mengerikan.."
"Aku yang harusnya ketakutan, idiot!"
Penjira mulai gemetar ketakutan, Jiji memukul kepala Penjira.
"Kadal itu. . Kenapa dia melompat? Dia tenang sampai beberapa saat lalu,"
"Kakimu.. kakimu meninggalkan sel kita"
Sasuke merespon, mengumpulkan serpihan serpihan piring lentera yang telah hancur. Kau bebas melakukan apapun sebelum tidur selama kau tidak meninggalkan selmu. Saat kau melangkah keluar dari sel, kau telah melanggar aturan.
"Ee... benarkah? Bagaimana bisa aku dapat mengeluarkan tanganku tetapi tidak dengan kakiku?"
"Tidak baik untukmu untuk keluar dari sel. Bagian manapun itu. Kurasa menurut Menou, batasnya untuk 'keluar' adalah saat kau melangkahkan kakimu dari sel."
Saat Jiji berkata seperti itu, Penjira menjawab "aku paham" sembari menganggukkan kepalanya menyetujui Jiji.
"Terima kasih, Jiji. Jika bukan karenamu, Menou mungkin sudah merobek mukaku."
"Jangan meminta maaf padaku, meminta maaflah pada Menou. Kau menumpahkan minyak pada tubuhnya dan ia berlari sambil berteriak."
"Jangan meminta maaf padaku juga, membuang-buang minyak yang sangat berharga."
Ganno menutupi minyak yang tertumpah dengan menggunakan kayu bakar, sisa dari minyak yang terhapus dari lantai menggunakan kertas beras. Sasuke menyalakan kembali piring lentera dengan menggunakan percikan chidori. Tidak bisa melihat dengan beban yang hampir sama besarnya dengan menggunakan batu untuk menyalakan kembali lentera. Ujung dari jilatan api berwarna jingga berkedip, inti dari minyak bergerak. Kenangan-kenangan yang berasal dari nyala api, Sasuke teringat akan Naruto di desa. Begitu juga dengan Kurama.
"Apa kalian melakukan sesuatu? Kami mendengar suara yang keras,"
Para penjaga datang untuk menginvestigasi suara yang tercipta dari insiden dengan Menou tadi. Mata Sasuke tetap tertuju pada nyala api, sementara Jiji dan Penjira berbohong pada para penjaga. Berpura-pura bahwa mereka baru saja bertengkar dengan satu sama lain.
Salah satu dari rasi bintang yang terdapat di peta astronomi adalah kayu api unggun. Terdapat di lukisan di peta astronomi, di kartu, hanya sebuah kayu api unggun dengan nyala api yang menggambarkan rambut Kurama. Bentuk dari nyala api terlihat seperti tersebar menjadi Sembilan arah.
Bisa jadi...? Sasuke berkedip, membawa dirinya kembali dari menatap nyala api.
Sebuah sumber kehangatan yang kecil yang membutuhkan oksigen yang membuatmu hidup. Nyala api kecil di hadapanmu tidak sama dengan yang di gambar. Semua api berwarna orange, tetapi yang satu ini berbeda. Api adalah reaksi kombusi dari kombinasi oksigen.
Api bukanlah hal satu-satunya yang berwarna orange yang ada di bumi.
Mungkin gambar kayu api unggun merupakan gamabar rasi bintang yang muncul di bulan september? Lalu, bagaimana kalau itu bukanlah api unggun? Melainkan.... Kyūbi?
"Bijū"
1400.
Arsip.
Pekerjaan yang menghilang, Sasuke bertemu dengan Sakura di rak buku yang berdiri di bagian barat bagian arsip.
"...........huh?"
Melewatkan kata pengantar ataupun pendahuluan dan langsung menuju pada inti masalah benar-benar mengganggunya. Sakura sudah sangat mengenal kebiasaan Sasuke untuk bertindak langsung dan keterusterangannya, Sakura pun merespon untuk kedua kalinya setelah menghela nafas.
"Ini adalah tujuan rasi bintang peta astronomi. Sepuluh dari dua belas rasi bintang merepesentasikan monster berekor (bijū)."
".....ah."
Ichibi direpresentasikan dengan tanuki dewasa dan anak tanuki yang bermain di pasir. Bijū yang terlihat seperti tanuki setelah bertransformasi.
Kucing yang menatap nyala api. Nibi (ekor dua) Kura-kura yang memanjat gunung berbatu. Sanbi (ekor tiga)
Monyet yang menggambar di tanah. Mempresentasikan Yonbi (ekor empat).
Kuda putih berenang di laut adalah Gobi (ekor lima). Katak dan siput yang berasal dari rawa adalah Saiken, Rokubi (ekor enam). Rasi bintang yang ketujuh direpresentasikan dengan batang pohon. Nanabi (ekor tujuh) adalah serangga, Choumei.
Sasuke membentangkan peta astronomi di podium untuk melihat kembali. Jika kau melihat lebih dekat di lubang yang berada di tengah pohon, serangga mengerumuni getah yang menggantung di pohon.
"Ah. Rasi bintang itu tidak direpresentasikan dengan batang pohonnya sendiri, melainkan serangga yang mengerumuninya."
Sapi yang berada di kandang mempresentasikan ekor delapan. Gyūki sebagai pencampuran darilembu raksasa dan gurita. (Ia adalah Ushi-oni, makhluk mitologi Jepang) Kayu api unggun dengan nyala api yang bagaikan ekor terlihat seperti kyūbi. Bagaikan melihat ekor Kurama yang terbuka dari belakang.
Akhirnya, rasi bintang bulan Oktober- raksasa yang terlahir dari bumi, jūbi.
"Itu berarti.. dua rasi bintang lainnya.."
Yang tersisa adalah lelaki tua dengan tongkatnya dan seorang gembala yang menatap langit.
"Rikudō sennin dan astronom Tataru."
"Sepertinya."
Dikatakan bahwa Rikudō sennin memisahkan chakra jūbi menjadi sembilan entitas yang berbeda sesaat sebelum ia meninggal, tetapi itu terjadi setelah peta astronomi digambarkan.
Mereka masih belum yakin apakah sembilan monster yang berbeda benar-benar terelasi dengan binatang yang berada di rasi bintang.
Bagaimanapun, Rikudō Sennin menambahkan dirinya dan Tataru ke dalam motif dari seluruhmonster berekor, dengan sengaja menyesuaikan jumlah ilustrasi dari sepuluh menjadi dua belas.
Apakah kalender yang kita gunakan sekarang sama dengan yang digunakan saat Rikudō Sennin masih hidup, dan apakah ini memang disesuaikan dengan jumlah bulan dalam setahun? Atau apakah ada signifikansi lain dari jumlah dua belas....
"... Jadi, Sakura, apa yang kau tahu apa yang harus kulakukan di sini?"
Sakura mengangkat wajahnya dari peta astronomi, wajahnya bersinar karena antusiasmenya.
"Uh. Jadi, aku dapat kesempatan untuk masuk ke kantor Zansūru hari ini. Pembawa pesan dari ibukota akan datang ke institusi hari ini." Sakura melanjutkan, "ibukota.. apakah kau ingin bertemu dengannya?"
"Yeah"
Informasi apapun yang kudapat tentang pemimpin politik di Redaku, aku dapatkan dari Kakashi. Ia pasti sudah berkolaborasi terhadap rencana dengan ratu Manari untuk berperang di negara lain.
Mungkinkah kepala negara mengirimkan utusan integral kepada sang direktur?
"Ini adalah kesempatanmu. Meniru utusan untuk bertemu Zansūru."
Kemudian, di gerbang utama Institut Astronomi, Fundaru melepaskan jubahnya yang telah kotor. Di hadapannya, sebuah dinding berbatu-bata berdiri menghalangi pandangannya di gerbang utama.
Desain gerbang utama tidak dapat dikatakan menarik. Selalu disinari sinar matahari yang memutihkan batu bata menjadi warna abu-abu yang membosankan, ditutupi dengan jeruji besi yang berlapis. Dandelion mulai tumbuh di sekitar ibu kota, namun awal mula musim semi tidak ada hubungannya dengan daerah ini.
Aku merasa depresi hanya dengan menghirup udaranya. Fundaru berencana untuk kembali pulang setelah ia menyampaikan pesan perdana menteri, setelah meminta untuk berbicara kepada perantara yang pasti.
"Selamat datang di institut, terima kasih telah berkunjung."
Fundaru sempat berpikir bahwa ia akan disambut oleh penjaga yang kuat dan mengintimidasi, namun seorang wanita muda yang muncul. Rambutnya yang berwarna sakura dan matanya yang berwarna cerah membuat perasaan menakutkan yang tertinggal hilang dalam sekejap.
"Ah.. aku berasal dari ibukota Redaku. Aku membawa pesan dari Perdana Menteri, Minoru-sama, untuk tuan Zansūru."
Fundaru dengan ceroboh mengayunkan kepala tongkatnya kepada wanita di hadapannya. Tongkat itu adalah ukiran rumit berbentuk elang, sebuah bukti untuk misi resmi.
"Kami telah menunggu untuk mendapat berita dari anda." Wanita ini tetap tersenyum sembari melanjutkan,
"terima kasih telah melakukan perjalanan yang panjang, tapi maafkan saya telah bertanya, Zansūru adalah orang yang sibuk. Tidak bisakah anda mengatakannya secara langsung? Kita memiliki waktu bebas untuk saat ini."
"Tentu saja. Bukan masalah."
Dipandu oleh wanita ini, ia mulai memasuki gedung utama.
"Pesan dari Minoru-sama, apakah itu?"
tanya Sakura bagaikan itu hanyalah perbincangan kecil, bahkan tidak mencoba untuk menutup-nutupi. Fundaru memutar kepalanya.
"Aku tidak mengetahui secara jelasnya, namun Minoru-sama memintaku berbicara tentang proges."
"Progres? Progres apa?"
"Aku tidak tahu apakah aku bisa mengatakan itu padamu."
Merupakan suatu protokol dasar untukmenghindari pertanyaan mengenai barang yang mereka bawa dan surat khusus apa yang mereka bawa.
"Apakah ini pertama kalinya anda bertemu dengan tuan Zansūru?"
Sakura tahu bahwa tetap diam akan terlihat mencurigakan, jadi ia berhati-hati untuk berbicara menanyakan beberapa pertanyaan.
"Secara formal, iya. Tetapi aku telah melihatnya beberapa kali saat ia mengunjungi istana."
"Benarkah? Kapan terakhir kali tuan Zansūru mengunjungi ibukota?"
"Pada musim panas kemarin. Saat ia mengunjungi ibukota dan bertemu dengan perdana Menteri Minoru-sama. Istriku bekerja sebagai pelayan di kuil istana kerajaan, dan aku bertugas untuk mengawasi tuan Zansūru."
Mereka berjalan sepanjang koridor sementara sang utusan berbicara tanpa tujuan. Memasuki ruangan besar di lantai ketiga, aroma debu memasuki hidung mereka. Ruangan ini kemungkinan diperuntukkan pembelajaran observasi astronomi di waktu-waktu tertentu. Sebuah model bagaikan surgawi berbentuk bintang misterius yang mengelilingi sebuah bintang tengah berwarna merah, bagaikan jarum jam yang dikombinasikan dengan roda gigi.
"Itu.. Tuan Zansūru...?" Rasa khawatir mulai meningkat, Fundaru melihat kembali pada wanita yang memandunya.
"Aku akan pergi sekarang."
TO-N! Fundaru dibuat pingsan seketika.
--------------------------------------
"Sepertinya ini akan baik-baik saja"
Sakura yang saat ini terlihat seperti Fundaru dengan menggunakan henge no jutsu, berbalik melihat Sasuke dengan tangan di pinggulnya.
"Sekarang! Sasuke, giliranmu."
"Aku juga harus berubah?"
"Aku yakin cara ini akan lebih baik."
Strateginya sangatlah mudah. Sakura, berpura-pura menjadi Fundaru, utusan perdana menteri, mengulur waktu sembari mencari informasi tentang kerjasama licik antara institusi astronomi dan perdana menteri. Hal ini sementara Sasuke kembali ke ruang bawah tanah untuk menyesuaikan terhadap keadaan yang tidak terduga. Setelah mereka mengirim kembali Fundaru ke ibukota untuk melaporkan tentang pertemuannya dengan Zansūru, sebuah pertemuan yang hanya ilusi genjutsu semata.
"Bagaimanapun, untuk inilah henge no jutsu diciptakan."
Sakura mengangkat tongkat yang dibawa Fundaru. Lebih baik untuk menyesuaikan dengan benda yang tingginya hampir sama dengan Sasuke, karena jutsu ini membutuhkan chakra untuk mengubah ukuran.
"Ini...."
Mengubah diri menjadi suatu yang anorganic lebih sulit dibandingkan mengubah diri menjadi seseorang. Aku pernah mengubah diriku menjadi shuriken dan kunai, tetapi menjadi tongkat adalah hal yang pertama kali. Itu pantas untuk dicoba. Sasuke membutuhkan beberapa detik untuk memeriksa materi pembentuk tongkatnya. Sasuke mulai menempa dan membentuk chakranya. POOF! Terdengar ledakan kecil.
Sasuke telah mengubah dirinya menjadi tongkat kayu, suara kayu kering bergulir saat ia terjatuh di lantai.
"Ini sempurna!"
Sakura mengangkat tongkatnya, situasinya memang sedikit aneh, namun persiapannya sudah selesai. Rencana selanjutnya akan lebih mudah. Sakura berjalan menaiki tangga meniru gerakan Fundaru, menggunakan tongkat di setiap langkahnya. Dengan lembut mengetuk pintu kantor direktur. Saat Zansūru melihat wajah Sakura yang berubah, Zansūru mengundang Sakura masuk tanpa ada rasa curiga.
Bagi Sasuke, yang biasa bekerja sendiri jauh dari desa, strategi seperti ini yang mengharuskan untuk bergantung pada teman (nakama 仲間 ー teman yang lebih cenderung mendekati keluarga ) terasa menyegarkan.
Zansūru memaksa Sakura untuk duduk di kursi yang dekat dengan dirinya, tetapi Sakura bersandar di depan pegangan kursi. Bagian belakang ruangan dipenuhi dengan meja dan desain yang modern yang tidak terlihat biasa di Redaku. Tempat ini adalah ruang belajar Zansūru.
Sakura telah memeriksa tata letak ruangan Zansūru menggunakan chakranya, seharusnya ada ruang tidur tersembunyi dibalik partisi di ruang belajar, dan di dalam ruang tidur itu terdapat tangga yang menuju ke ruang bawah tanah kedua.
"Bagaimana kabar perdana menteri? Sudah lebih dari setengah tahun aku belum melapor." Zansūru duduk bersandar di kursinya dengan santai, memulai perbincangan setelah melihat elang di tongkat yang Sakura genggam.
"Dia baik-baik saja. Begitu juga dengan Ratu Manari."
"Itu yang terpenting di atas segala-galanya. Aku selalu berpikir hal itu di pekerjaan ini."
Sekarang, setelah Zansūru selesai menyapa Sakura dengan santai, ia mengalihkan pandangannya dan menatap ke jendela.
"Oh. Lihatlah itu. Sepertinya sudah mulai hujan."
"Huh"
Zansūru berdiri untuk melihat lebih baik dari jendelanya. Saat ia sudah benar-benar teralihkan, Sakura menggulirkan tongkatnya tanpa mnegeluarkan suara apapun ke arah bersebrangan dengan ruangan, berhenti tepat sebelum pembatas rahasia antara ruang belajar dan kamar tidur.
"Sepertinya itu bukan hujan, terlihat seperti hujan tadi. Kesalahanku."
Zansūru duduk kembali ke kursi berlengannya dan menatap berlawanan dari tongkat. Sasuke mengubah dirinya kembali tanpa mengeluarkan suara ataupun getaran. Memasuki titik buta di sudut dinding, ia menyelinap ke bagian belakang ruang tidur dan memindai penampakan dari keseluruhan ruangan. Sebuah rak buku kayu dan tempat tidur.
Mungkin jalan masuk untuk menuju ruang bawah tanah kedua, tetapi sayangnya berdiri di depan pintu dapat terlihat keseluruhan dari ruang belajar. Sasuke menatap kembali ke ruang belajar.
"Kekurangan air di ibu kota, aku dengar sudah serius."
"Ya. Sepertinya sudah serius, walaupun tidak terasa seperti itu, karena makanan di istana kerajaan merupakan prioritas utama."
Zansūru berbicara pada Sakura, punggungnya menghadap Sasuke. Sasuke dengan berani berjalan menuju pintu perunggu, terlihat di pandangan terbuka, Sasuke menarik pegangan pintu berharap Zansūru lupa untuk menguncinya, tetapi pintu itu tidak terbuka. Tidak dapat dipungkiri. Mungkin pintu ini dapat dibuka dengan paksa.
Ada banyak shinobi yang menggunakan ninjutsu untuk membuka kunci, metodenya berbeda-beda tergantung tiap individu. Kakashi terkadang menggunakan teknik melelehkan besi dengan panas ataupun api untuk membuka paksa sebuah kunci. Jika itu Shikamaru, bayangan kecil dapat bertindak bagai anak kunci. Naruto bahkan dapat memutar lubang kunci menggunakan putaran angin, sebuah hasil dari rasengan kecil. Sasuke memiliki kemampuan lebih dalam elemen api, katon. Ia sering menggunakan teknik seperti Kakashi menggunakan metode melelehkan, tetapi untuk saat ini,ia memutuskan untuk mencari jalan lain. Melelehkan akan meninggalkan banyak bukti.
Sasuke melihat kembali ke Sakura memberikan tanda untuk memberikan waktu lebih banyak. Merespon tanda dari Sasuke, Sakura bersiap untuk mendapatkan sisi baik Zansūru.
"Sebenarnya, Tuan Zansūru, kita pernah bertemu sebelumnya. Anda datang ke istana kerajaan pada musim panas lalu. Pada waktu itu, saya menyapa anda."
"Benarkah? Musim panas lalu, itu setelah kematian raja terakhir. Ratu Manari masih muda, aku yakin semua yang bekerja di bawah perdana menteri pasti sangat sibuk... berbicara tentang perdana menteri, ceritakan kenapa anda sampai di sini?"
"Saya paham.. tetapi.. satu hal lagi yang ingin saya tanyakan pada anda. Pelayan kuil yang menjaga anda pada saat anda melakukan kunjungan, sebenarnya adalah istri saya. Apa kau mengingat tentang dia?"
Saat Sakura mengulur waktu dengan perbincangan santai, Sasuke memasukkan ujung jarinya ke dalam lubang kunci dan membentuk chakranya, membuat kunci instant. Dia tidak dapat membuat sesuatu yang kompleks seperti kunci untuk ruang arsip, tetapi untungnya ia pernah membuat kunci untuk pintu yang sama dengan yang sekarang.
Teknik ini tidak sama dengan pembentukan cincin untuk Sakura. Sasuke harus mengoperasikan chakranya dengan hati-hati ke dalam setiap lekukan dari dalam lubang kunci, membuat sebuah kunci dari tanah yang dingin dan keras, tetapi material itu akan mudah untuk hancur dalam keadaan tertekan jika tidak dipadatkan dengan cukup baik.
".......- sepertinya merupakan kebetulan yang baik dengan istriku yang bertugas dalam kunjunganmu, tuan Zansūru. Saya merasa sangat senang."
"Katakan saja padaku jika ada yang kau inginkan sebagai balasannya, tetapi untuk sekarang, aku ingin mendengarkan tentang bisnis dari perdana menteri."
"Ya.. ya.. anda benar. Maafkan saya karena berbicara terlalu panjang. Berbicara yang panjang dalam tipe komunikasi seperti ini lebih membuat perdana menteri menunjukkan rasa iba yang lebih. Sepertinya hal ini berasal dari masa kecilku dan pertumbuhanku karena aku tumbuh dengan enam orang saudara perempuan dan ibu dan nenekku. Mereka senang berbica-"
"Tuan Fundaru"
Suara Zansūru menjadi tegas, "izinkan aku mendengarkan urusanmu."
"Ahh.. ya... tentu saja"
Sakura, dengan menyamar menjadi Fundaru mengangkat bahunya, "ini terdengar aneh, tapi aku diberikan satu kata. 'Progres'. Apakah progresnya berjalan baik?... Aku tidak tahu ada apa dengan ini semua."
"Heh.. terdengar seperti perdana menteri. Progressnya berjalan baik. Tolong sampaikan padanya bahwa kami dapat mengirimkan kekuatan yang diminta ke ibukota dan desa Nagare dalam beberapa jam, kapanpun dibutuhkan."
"Aku mengerti. Izinkan aku bertanya, dan.. berapakah kekuatan itu?"
"Bukankah kau hanya utusan pembawa pesan? Informasi ini sangat rahasia. Dalam hal tertentu, Minoru-sama mengetahui apa yang kumaksudkan."
Dengan waktu yang diberikan Sakura, Sasuke mampu membuat replika dari kunci. Tidak ada masalah saat kunci tersebut dimasukkan ke dalam lubang kunci, tetapi saat kunci tersebut diputar, terpatahmenjadi dua, meninggalkannya hanya memegang pegangan dari anak kunci buatannya. Apakah itu tidak cukup kuat? Ia menahan dirinya untuk berkomentar sembari menarik sisa yang patah keluar dan mulai mengolah chakranya kembali sekali lagi. Dalam keadaan seperti ini, aku sedikit kurang sabar. Potensi yang berbahaya tidak akan menjadi masalah jika aku sendirian, tapi sekarang aku bersama Sakura.
"Aku bertanya terlalu banyak, maafkan atas kelancanganku."
"Tidak.. tidak.. ngomong-ngomong, Tuan Fundaru, apa yang terjadi dengan tongkatmu?"
"Tongkat?"
"Bukankah kau berjalan menuju ruangan ini menggunakan tongkat? Aku tidak melihatnya di manapun."
Dengan perubahan chakra menjadi tanah yang sangat kuat dan padat sekali lagi, Sasuke memutar kunci tersebut. Sekarang dengan kepercayaan diri bahwa pegangan yang patah telah tersambung dengan bentuk yang baru. Sekarang, kunci itu tidak patah, tetapi.... Suara pegas dan suara roda pegas yang berbunyi menggema.
"Hn?"
Zansūru mulai memutar kepala untuk melihat di belakangnya, suara dari kunci yang terbuka bergema di ruangan yang tenang.
Sakura mengeluarkan tongkat yang asli dari balik jubahnya, dan dengan lantang mengetukkan ke lantai.
".......jika anda bertanya-tanya tentang tongkatku, ada di sini."
Sasuke menggunakan kesempatan saat Sakura menarik perhatian Zansūru untuk membuka pintu dan dengan cepat masuk ke balik pintu. Ruangan itu sangat gelap, berdebu dan tercium seperti lumut. Aku menyalakan percikan di tanganku untuk melihat di sekelilingku, sebuah tangga berbentuk spilar menjulur dari bawah kakiku. Apakah ini jalan masuk menuju ruang bawah tanah kedua?
Ia tidak memiliki banyak waktu. Sasuke berlari menuruni tangga dengan langkah kaki yang tenang dan sunyi. Dari yang ia ingat, tangga ini menurun hingga lima lantai, di lokasi paling bawah, menghentikannya adalah sebuah pintu besi yang ia kenal. Membuka kuncinya dengan menggunakan metode yang sama dengan sebelumnya. Saat ia mendorong pintu tersebut dengan pelan, gelombang angin dingin menerpa wajahnya. Disaat yang sama, ia dapat mendengar kepakan sayap.
"....burung?"
Dia mendengar suara seekor burung. Ada beberapa ayam. Mereka berkumpul di kaki dan sepatu Sasuke, dan dengan cepat mematuk dan menggoyangkan ekor mereka.
“Apakah semua ini berjumlah 40? 50?”
“Kenapa ayam? Ditempat seperti ini?”
Tidak seperti tangga yang berdebu dan gelap di ruang bawah tanah, tempat ini memiliki ventilasi yang membuat udara menjadi segar, ventilasi terbuka. Sayuran tertinggal untuk ayam yang ditempatkan di kotak dan tersebar di bawah mereka, jauh lebih segar dibandingkan dengan yang harus dimakan para tahanan. Air bersih bukanlah suatu masalah juga, segalanya dijauhkan dari tangan-tangan manusia.
Di dekat dinding, batu-batu yang sudah digali tertumpuk. Permukaan batu-batu tersebut, memiliki pola yang berbeda terdiri atas titik cekung dan cembung seperti seseorang telah mencoba untuk mencongkel sesuatu dari batuan tersebut, tanah berlapis kotoran di permukaannya.
Saat aku bekerja diluar, aku melihat batu yang sejenis. Sasuke merasa bingung dan berpikir saat bulu-bulu berterbangan di kakinya di ruang bawah tanah. Puluhan ayam, tumpukan batu... Tempat..tempat apa ini?
Comments
Post a Comment