Dia berpindah melewati halaman yang tercat merah oleh warna merah sinar matahari yang mulai terbenam, menuju ke perpustakaan yang terletak bersebrangan dengan gendung utama.
Hanya pada saat ini, saat makan malam, para narapidana dapat memasuki ruang arsip, mereka membuka pintu yang tertutupi kuningan yang telah berkarat, melihat di hadapan mereka lemari buku yangtinggi melewati bahu mereka, lemari-lemari itu tersusun sangat rapi, bangunan ini dibangun dengan menggunakan batu pasir dan laterit, yang membuat ventilasi gedung berlantai ini menjadi tempat yang tepat untuk menyimpan dokumen, yang terlindungi oleh kulit domba, karena dokumen ini dapat memudar dengan mudah.
Udaranya sangat dingin, pencahayaan yang temaram terasa suram, sumber cahaya satu-satunya hanya berasal dari jendela kecil yang bertindak sebagai ventilasi, menyinari lantai yang bermotif kotak simetris melewati Sasuke, Sasuke sempat berpikir bahwa dia akan sendirian, namun ia dapat melihat bayangan beberapa narapidana duduk di lantai sembari membalikkan halaman buku yang ada di tangan mereka.
Sulit untuk dipercaya ternyata sebagian besar narapidana dapat membaca dan menulis, Sasuke sempat berpikir bahwa mereka hanya melihat-lihat gambar sebagai penghibur diri. Berdasarkan rencananya, Sakura akan menunggunya di dekat lemari buku di sekitar jendela selatan, Sasuke pun mulai mendekati tempat pertemuannya dengan Sakura, dengan berpura-pura mencari buku di rak buku. Sasuke pun semakin mendekat dengan Sakura. Saat dia mencapai rak yang ditentukan, ia berdiri bersebrangan dengan Sakura, Sasuke menarik buku di hadapannya dan berhadapan denganSakura, tidak ada seorang pun di sekitar mereka.
"Lelaki yang bertugas di arsip adalah teman satu selku," ucap Sasuke.
Menyembunyikan mulutnya dengan sampul buku yang ia pegang. Ada kesunyian selama beberapa saat sebelum Sasuke menerima balasan dari rak buku di belakangnya."
Apakah ia yang tertidur di meja? Kurus, berambut pendek."
"Dia sangat suka berjudi. Jika tentang pertaruhan, dia akan menyutujuinya. Aku akan berbicara padanya, tunggu di sini, lalu pergi ke tempatku dan tolong aku."
"Aku mengerti," balas Sakura sembari menutup buku yang ia pegang untuk merespon Sasuke.
Sasuke berjalan menuju Penjira, wajahnya tertelungkup di halaman buku yang ia baca.
Sasuke menyentuh pundak Penjira.
"Hey, Penjira."
"Uhh! Aku terkejut!" Mata Penjira tiba-tiba terbuka, "ini tidak biasa, Sasuke."
"Aku tidak tahu kalau kau bertanggung jawab terhadap arsip."
"Tidak sepertimu, hukumanku lebih pendek, aku berusaha untuk menjadi kandidat untuk dapat keluar dari sini dengan berkelakuan baik."
"Jika kau memang narapidana yang dapat dijadikan contoh, kenapa kau tidak mencoba untuk menjaga buku dengan lebih baik? Dari koleksi buku-buku yang baik ini, buku yang kau tidur terlihat ternoda."
"Sial!"
Lembaran halaman buku tersebut terkoyak saat ia berusaha membersihkannya dengan lengan bajunya,
"aaahh!! Lenganku merobek Kabinaga!"
"Kabinaga?" tanya Sasuke.
"Makhluk ini,"
Penjira menunjuk ke gambar seekor monster berekor panjang, namanya tertulis "titan" sulit untuk dibaca, menimbang kubangan lumpur dan wajahnya yang berserabut, tampaknya monster ini sedang dibandingkan dengan pohon yang berada di belakangnya.
"Buku ini berisi informasi tentang banyak naga dan monster yang telah punah. Walaupun kau tidak bisa membaca, tapi gambarnya lumayan bagus," ucap Penjira.
Sasuke dengan cepat melirik ke arah buku tersebut. Monster Raksasa: Titan (raksasa). Naga besar dengan leher yang mengesankan dan ekor yang besar, dengan panjang 30 meter keseluruhan, telah diangkat dan ditemukan beberapa skeleton yang terdapat di beberapa lapisan yang membentang di Institut Riset Astronomi Tataru. Walaupun Sasuke tidak terlalu familiar dengan makhluk itu, tetapi para peneliti telah mengklasifikasikannya menjadi "naga" yang dulu pernah ada di Redaku, beberapa bahkan menyebutnya sebagai dinosaurus.
Pasti ada lahan basah yang datar pada saat itu, sebelum terjadinya gempa dan pergerakan lempeng yang membentuk pegunungan. Pada saat itu, naga dan monster besar berjalan dengan bebas di bumi.
"Kau mau buka yang seperti ini?" tanya Penjira
"Sebenarnya tidak, ada buku yang sangat ingin kucari. Buku seperti peta astronomi."
Wajah Penjira memiliki ekspresi yang mengatakan "aku tidak tahu sama sekali. Aku tidak pernah mendengar tentang hal itu, tetapi jika kau bisa menemukan orang yang bisa membaca, aku bisa membantumu menemukannya di katalog."
"Aku bisa membaca," jawab Sasuke.
"Apakah itu benar? Kau sangat berbakat," ucap Penjira terkagum dengan kemampuan Sasuke yang dapat membaca.
Katalog Penjira yang berada di belakang konter sangat mengagumkan, cukup tebal untuk menjadiensiklopedia, ujung dari tiap halaman ditekuk ke atas, benang sutra yang mengikat tiap halaman ditulang belakang katalog tersebut, hampir hancur berhamburan.
Saat kau membuka katalog tersebut dengan sangat hati-hati, kau menyadari huruf yang ditulis tangan tercetak di seluruh halaman,goresan tintanya tergores di arah yang berbeda, tiap kalimat tersusun acak tanpa terorganisir, namun deskripsi peta langsung menarik perhatian Sasuke, bagaikan tertulis di halaman pertama bagaikan merupakan dokumen yang paling penting di tempat itu.
"Rak buku bawah tanah... 1-24" setelah membaca letaknya di perpustakaan.
"Oh.. perpustakaan bawah tanah," bahu Penjira menurun, "tempat itu tidak dapat dimasuki. Ba//ah dipenuhi dengan dokumen penting, setiap buku di sana sangat berharga, jika mereka mengetahui kau masuk ke sana tanpa izin, walaupun untuk mengambil buku, kau akan diberikan hukuman terberat yang dapat mereka berikan padamu."
Hukuman terberat adalah hukuman gantung.
"Aku paham. Maaf telah menanyakan. Peta astronomi terdengar sangat menarik," Sasuke mengangguk pelan merespon Penjira.
Sakura berpura-pura melewati mereka.
"Oh! Sensei!" panggil Penjira setelah melihat Sakura.
"Peta astronomi terdengar menarik. Karena aku berada di institusi astronomi, aku bisa belajar tentang astronomi sesekali,"
"Ada banyak buku lain tentang itu. Maafkan aku, sangat mengecewakan ternyata dokumen itu terlarang."
"Ayo baca dokumen itu saat malam hari. Ini akan menjadi rahasia kita. Bolehkah aku meminjam kunci?"
Muka Penjira menjadi bingung.
"Aku sangat ingin membaca buku seperti itu, mungkin saja bercerita tentang hal-hal romantis, mungkin bercerita tentang saat meteor jatuh dari langit..."Sakura berbicara dengan sangat polos.
Penjira mengibaskan tangannya untuk mengatakan tidak.
"Walaupun untukmu, sensei, aku tidak dapat meminjamkan kuncinya. Hukuman akan jatuh padaku jika aku menolongmu,"
"Benar kah? Lalu? Bagaimana jika kita bertaruh," tanya Sakura dengan pasti.
Saat permainan dihadapkan padanya, wajah Penjira menjadi semangat.
"Kita bisa bermain empat permainan favorit, terserah permainan apapun yang kau inginkan. Bisa chinchiro atau hanafuda. Tapi, jika aku menang, aku mendapatkan kunci untuk ruang bawah tanah."
"Ya. Tapi, jika penjaga mengetahuinya, bilang pada mereka kau mengambilnya dariku tanpa izinku."
"Jika para penjaga akan datang ke sana. Aku berjanji, setelah aku selesai membacanya, aku akan memgembalikan kunci itu padamu."
Tangan Sakura berada di posisi memohon di depan wajahnya, "tolonglah.. tolonglah.."
Penjira merasa khawatir untuk beberapa saat, lalu ia bergumam, "ah! Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan? Ugh!! Baiklah! Ayo bermain!"
"Itu yang aku tunggu! Apa yang akan kita mainkan?" tanya Sakura cepat.
"Mungkin bukan chinchiro, karena aku baru saja kalah bermain chinchiro dengan Sasuke dan bahkan dia bukanlah orang yang beruntung. Ayo bermain 'hosinarabe'"
"Hosinarabe?" Sakura dan Sasuke mendekatkan kepala mereka dengan satu sama lain merasa bingung seperti mendengar permainan yang belum pernah mereka mainkan.
"Permainan yang biasa mereka mainkan di sini. Aku akan membawa permainannya."
Sasuke mengambil kesempatan ini untuk berbicara dengan Sakura saat Penjira menghilang di rak buku di belakang mereka.
"Sakura, kau hanya harus berpura-pura bermain. Saat permainan bermula, aku akan mengenakan Genjutsu pada Penjira."
"Aw.. itu menyebalkan. Kau akan bermain curang," jawab Sakura cepat.
Sasuke melihat Sakura dengan heran.
"Kita akan baik-baik saja. Apa kau lupa? Aku adalah murid favorit Tsunade-sama."
"Bukankah Tsunade sangat buruk dalam berjudi?"
Penjira kembali, berpikir bagaimana ia bisa meyakinkannya untuk melakukan ini, di tangannya Penjira membawa sebuah kotak yang ditutupi dengan lembaran emas yang tertempel di kotak, penutup kotak itu dibuka, menunjukkan 1 dek kartu dengan gambar di atasnya. Kartu-kartu itu terlihat lebih kecil dibandingkan dengan kotak yang menyimpannya.
"Di Hosinorabe, kau memiliki 12 kartu di tanganmu, yang harus kau lakukan hanyalah memiliki 1 kartu dari tiap tipe kartu," Penjira mulai duduk dan menyusun beberapa kartu.
"Beberapa bulan yang lalu, ada beberapa orang yang membersihkan rak menemukan kartu-kartu ini. Pastikan kau mendengar dengan baik peraturannya."
"Ada 12 ilustrasi yang berbeda di dek, kuda putih berenang di laut; kucing menatap langit; api unggun yang terbakar dengan api berwarna jingga; monyet yang mengukir gambar di tanah dengan ranting; gembala yang menatap bintang melalui bola kristal; sapi yang berada di dalam kandangnya menatap keluar; batang kayu dengan getah dan amber; ogre/raksasa terlahir dari bumi; kura-kura memanjat bebatuan di gunung, seorang lelaki tua dengan tongkatnya, ayah rakun dengan anak rakun bermain di gundukan pasir dan yang kedua belas katak dan siput keluar dari rawa. Tema yang umum dari kedua belas kartu ini adalah seorang manusia, sebuah tanaman atau seekor hewan, dengan warna yang terang dan banyak, di belakang tiap kartu sepertinya memiliki gambar yang sama dalam 1 dek.
Setelah diperhatikan beberapa saat, bentuk di belakang kartu terlihat seperti seekor kadal melingkari sebuah batu
"Berbicara tentang kadal, itu terlihat seperti Menou"
"Maafkan aku, tapi apa hubungan Menou dengan semua ini? Aku merasa rugi tentang subjek itu, baiklah, ada 12 gambar yang berbeda, lima dari setiap kartu, dengan total 60 kartu. Pertama, aku akan membagi 6 kartu. Dari sana, kau bisa menukar kartu yang telah dibagikan padamu, lima kali maximum. Kau menang jika peran yang kau mainkan lebih kuat," aku menerangkan.
Penjira mengeluarkan secarik kertas dari kotak berisi sisa kartu, daftar keseluruhan kemungkinan kombinasi dari kartu yang membuat sebuah "kertas". Peran terkuat adalah "bintang" yang terdiri dari kuda putih, gembala, kucing, api unggun, raksasa dan kura-kura. Ada yang tertulis di bagian bawah kertas tersebut, tetapi tintanya terlalu pudar dan tidak dapat dibaca. Peran dari "bumi" yang sepertinya menjadi terkuat kedua, terdiri dari kucing, api unggun, rakun, katak dan siput, kura-kura dan lelaki tua. Sebagai tambahan dari "bintang" dan "bumi" ada peran lain seperti "matahari tenggelam", "api yang membakar", "cuaca sinar matahari",
"daun" dan lain-lain, tetapi tidak seperti poker, sepertinya tidak ada keteraturan untuk setiap kombinasi di tiap peran, untuk pemula, suatu kebutuhan untuk memiliki waktu yang cukup untuk mempelajari.
"Oh, apakah itu saja? Baiklah, ayo kita mulai," Sakura berkata dengan nada yang tenang, mengembalikan ke Penjira.
"Sensei apakah kau tidak mendengarkan? Ini adalah permainan dimana kau mengkombinasikan peran, pemula seharusnya benar-benar menyimpan kertas ini untuk mencocokkan dan memeriksa kartu mereka."
"Aku sudah mengingatnya," jawab Sakura.
"Apa?" tanya Penjira tidak percaya.
Sakura duduk di hadapan Penjira sembari menyibakkan rambut pinknya ke belakang telinga, dan Sasuke berada di belakang Sakura, memperbaiki postur duduknya dan duduk lebih tegap. Ia sudah lama mencoba untuk memperbaiki kebiasaan duduknya.
Mata Sakura yang berbentuk almond mengecil seperti mata kucing saat ia melihat wajah Penjira, bagaikan mencoba untuk memprovokasinya.
"Ayo kita mulai"
"Sensei.. ada yang berbeda denganmu,"
Sakura tersenyum melihat perubahan pada diri Sakura saat ia duduk di hadapannya.
"aku telah melihat banyak orang mengubah atmosfer saat berhubungan dengan perjudian, aku selalu berpikir kalau mereka adalah yang bermasalah, dan mereka seharusnya berhenti berjudi. Bukankah ada aturan untuk tetap menunjukkan wajah serius dan tidak pernah menunjukkan perubahan emosi?"
Sakura mengambil kartu di hadapannya.
"Ya, biasanya ronde kedua ada yang kalah yang berurusan dengan semua orang, sepertinya itu tidak relevan dengan tipe permainan seperti ini."
Sakura menghadapi kartu di hadapannya dengan sangat terampil bagaikan dokter bedah.
Penjira mencoba mengobservasi tangan Sakura sebisanya. Dr. Sakura dalam bidangnya kemungkinan adalah satu-satunya yang memperlakukan narapidana layaknya manusia, pada saat ini, ia telah mendapatkan hati seluruh narapidana, tidak seperti sang direktur yang menyiksa mereka hanya karena pekerjaan yang terlalu banyak. Tapi, akhir-akhir ini, sesuatu telah berubah bagi para narapidana. Sekarang mereka memiliki harapan karena Sakura telah tiba di sana.
Tetapi sekarang, ekspresi wajah wanita yang duduk di hadapannya ini telah berubah sepenuhnya, bukan lagi wajah dokter yang baik yang biasa Sakura tunjukkan. Penjira mengambil kartunya dari tumpukan kartu. Tidak buruk, ia mendapatkan peran terkuat kedua, "bumi". Ia melihat kembali pada Sakura yang melihat tangannya, wajahnya tertutupi dengan senyumannya.
Ada banyak orang yang suka bermain, seorang dokter bukanlah pengecualian. Penjira mengeluarkan tiga kartu, menyimpan kartu lelaki tua, kucing dan kura-kura, dan mengambil tiga kartu lagi dari tumpukan kartu, lalu dia mengambil kartu kura-kura kedua, katak, dan api unggun. Yang merupakan penarikan kartu yang baik, Penjira hampir mengumpulkan seluruh peranuntuk "bumi".
Sekarang adalah giliran Sakura, ia mengeluarkan sebuah kartu dan menukarnya dengan sebuah kartu. Matanya bergerak cepat melihat setiap kartu yang ia ambil, lalu mengeluarkan kartu lagi dan mengambil kartu lain. Giliran kedua, ketigaSeiring berjalannya waktu, para narapidana yang berada di perpustakaan mulai mengumpul disekitar Sakura dan Penjira. Semua orang merasa penasaran dengan pertarungan antara mereka.
Tidak dalam waktu lama, giliran berikutnya menjadi giliran terakhir. Penjira terdiam. Keenam kartu di tangannya adalah: kura-kura, kura-kura, lelaki tua, kucing, log kayu api unggun, dan katak.
Jika dia mengeluarkan salah satu kartu kura-kura dan mengambil Tanuki (rakun), maka dia akan memiliki peran "bumi". Satu-satunya pilihannya, ia berpikir kemungkinan untuk mendapatkan kartu yang belum ia miliki, itu tidak akan ada gunanya.
"Apa yang harus kulakukan?" Pikir Penjira, melihat tangannya.
Penantangnya adalah seorang pemula, Sakura memang mengatakan dia mengetahui peraturannya, tetapi bagaimana kemungkinan ia memiliki kombinasi kartu kompleks dari "bintang" atau "bumi".
Dia sudah beruntung jika ia memiliki pasangan kartu sederhana seperti pair atau bahkan triplet.
"Keluarkan semua kartu kecuali kura-kura," pikir Penjira.
Jika ia mendapatkan 1 lagi kartu kura-kura, maka ia akan mendapatkan triplet.
Walaupun bukan, ia masih akan mendapatkan sepasang pair dan itu merupakan set poin yang bagus. Sulit untuk memaksakan mendapat "bumi", melindungi point yang ia miliki sekarang adalah jalan yang terbaik. Penjira hampir mengeluarkan keempat kartu begitu saja, saat matanya melihat Sakura di hadapannya.
"Kau mungkin ingin berpikir lebih lama untuk melakukan itu," Sakura berkata lembut sembari mencondongkan kepalanya ke samping.
Penjira berpikir untuk mengganti strateginya. Mengarahkan untuk memperoleh tiga atau dua "pair" sudah bagus, menyelesaikan permainan tanpa apapun, bukanlah hal yang bagus, dan jika ia dapat melengkapi peran "bumi", ia yakin bahwa ia akan berteriak. Membuang kura-kura, dan mendapatkan tanuki, peran "bumi" akan lengkap. Jika ia menarik sesuatu selain tanuki atau sesuatu yang tidak ada di kartu miliknya, dan permainan ini berakhir. Penjira memutuskan untuk melakukan pilihan kedua.
Setelah matanya memastikan kartu yang ia ambil, Penjira hampir melompat dari duduknya.
------syukurlah!
Sebuah kartu tanuki. Ia telah melengkapi peran "bumi".
"Aku mendapatkan kartu yang aku inginkan."
Sakura sepertinya juga sudah mendapatkan perannya. Ini telah melengkapi keseluruhan 5 putaran.
Akhirnya, waktu penunjukan kartu.
Setiap momen pertarungan yang menentukan dihabiskan untuk melihat tangan lawan dan menghitung tindakan terbaiknya.
"Senseeiii----- jangan menangis," goda Penjira sembari membuka kartu miliknya di atas meja.
Pandangan para penonton langsung tertarik pada keenam kartu Penjira yang disebar di meja.
Menyadari peran "bumi" yang lengkap dengan terkesiap.
"Aku memenuhi "bumi"
"Apakah itu bagus?" tanya Sasuke pada lelaki di sampingnya. Ia mengangguk.
"Ini adalah peran terkuat kedua. Satu-satunya cara mengalahkannya adalah dengan kau melengkapi "bintang", tetapi sepertinya tidak mungkin untuk sensei, untuk melengkapi keseluruhan "bintang" secepatnya, kau kalah."
Sasuke tetap menatap figur istrinya, wajah tanpa ekspresinya tampak tidak goyah. Jari Sakura membuka kartu pertamanya, Tanuki. Beberapa hela nafas terdengar dari penonton.
Peran "bintang" tidak memiliki tanuki di dalamnya. Pertandingan ini merupakan kekalahan bagi Sakura. Sepertinya tidak mungkin di permainan kesempatan.
Warna merah perlahan memenuhi mata Sasuke, mempersiapkan dirinya untuk memasukkan ilusi di perpustakaan.
Di saat yang sama, Sakura dengan bangganya menyeringai dan mulai tertawa kecil. Ujung jarinya membalik kelima kartu secara berurutan. Kura-kura, lelaki tua, kucing, kayu untuk api unggun, dan katak.
Kombinasi itu-
"Bumi!" Seseorang dari penonton berseru.
Kartu dengan kombinasi yang sama tersusun dalam dua barisan di hadapan mereka. Peran Sakura sama dengan Penjira "Bumi". Sasuke berpikir seberapa mungkin hasil yang seimbang terjadi.
"Kau curang."
"Ah.. kau berpikir seperti itu? Mau memeriksa tubuhku?"
Dengan tenang Sakura mengulurkan kedua tangannya ke hadapan Penjira memajukan lehernya menunjukkan lehernya yang penuh dengan kelembutan yang menarik. Rambut pinknya menyentuh pipinya saat beberapa helai rambutnya tertumpah dari belakang telinganya. Sakura menatap dengan provokatif dari balik mata hijaunya membuat Penjira terdiam dengan kehilangan kata-kata.
Kecurangan bukanlah suatu hal yang pantas dipertanyakan di penjara, selama sang lawan tidak mampu membuktikan trik yang digunakan. 30 menit berlalu saat mereka melanjutkan permainan.
Punggung Penjira telah basah oleh keringat. Dibalik kartu yang terbuka seperti kipas, bulu mata Sakura yang berwarna hijau menatap balik ke Penjira. Setetes keringat dari dahi Penjira menetes di kartunya.
Mereka telah bermain sebanyak 5 permainan, 0 kemenangan dan 0 kekalahan. Semua permainan berakhir dengan imbang. Sakura yang dalam posisi menyerang membuat peran yang sama dengan Penjira selama 5 kali berturut-turut.
"Ini tidak mungkin, seseorang bermain curang di sini."
Sasuke sempat berpikir bahwa Sakura bermain curang, memfokuskan pandangannya ke arah Sakurasaat Sakura menyentuh kartu di hadapannya. Dia tidak terlihat mencurigakan, tetapi keraguan masih menyelimuti.
"Sekarang.. waktunya pertunjukan untukmu...," suara sakura bergema,
"ayo selesaikan permainan ini."
Sembari berdoa, Penjira membuka kartu di hadapannya. Lelaki tua, penggembala, tanuki, tanuki, kura-kura, kura-kura. Kombinasi pair hewan disebut "Soujo Teia". Penjira sudah tidak peduli terhadap kekuatan tiap role (peran). Role apapun dia dapat, yang terpenting dia memenangkan pertandingan.
"Satu lagi hasil imbang, bagaimana bisa dengan kemungkinannya.."
Sakura tersenyum dan menyebarkan kartu di hadapannya untuk menunjukkan semuanya. Tubuh Penjira menurun lega.
Lelaki tua, gembala, tanuki-tanuki, kura-kura, kura-kura. Kartu milik Sakura bagaikan mencerminkan kartu milik Penjira. Dada Penjira menurun dipenuhi dengan helaan nafas.
"Suatu kebetulan yang sangat hebat".
Permainan ke 6. Sakura mengacak sekumpulan kartu, tersenyum dan tertawa sembari mendengar suara kartu yang teracak.
"Lanjut?"
"Tidak. Aku mengaku kalah," ungkap Penjira sembari berdiri.
Mereka dapat bermain sebanyak apapun tetapi hasilnya akan tetap sama. Ia tidak dapat menang ataupun kalah terhadap wanita di hadapannya ini. Dia merasa bagaikan seekor anjing, merasa lelah hanya karena bermain.
"Akhirnya, aku telah menunggu."
Setelah mengatakan kata-kata kekalahannya, Penjira berjalan menuju rak buku dan kembali membawa sebuah kunci kuningan terlingkar di jarinya.
"Ini kunci untuk ke perpustakaan bawah tanah. Jika kunci ini hilang, maka hukuman terberat akan diberikan di semua orang yang ada di perpustakaan ini."
"Aku berjanji, aku akan mengembalikannya. Terima kasih."
Saat Sakura mencoba mengambil kuncinya, Penjira menarik tangannya kembali dan menambahkan,
"bahkan jika judulnya terdapat di katalog, buku tentang astronomi tidak terjamin berada di sana."
"Apa maksdunya? Di katalog dikatakan buku itu ada di sana."
"Itu alasannya kenapa katalog tidak selalu akurat, aku tahu beberapa koleksi diatur di Istana Kerajaan sampai keadaan kerajaan stabil, beberapa buku pada saat itu hilang."
Kau bisa mengatakan itu sebelumnya, pikir Sasuke sembari menatap Penjira.
Penjira mengangkat bahunya dan berkata, "itu cerita yang buruk," menyalahartikan pandangan Sasuke.
"Aku berpikir apakah Istana Kerajaan tidak pernah berpikir bagaimana berharganya koleksi buku itu. Beberapa puluh tahun yang lalu, ada catatan yang menuliskan ada seorang perwakilan dari suatu negara yang mencari buku itu, dan ia tidak mengembalikannya."
"Apakah buku yang tertentu?" Sakura mendengarkan.
"Beberapa buku terlarang dan seharusnya tidak pernah melewati pintu keluar, tetapi raja sebelumnya sangat menyukai lelaki itu. Aku rasa ia bernama Orochimaru."
Nama yang tidak terprediksi itu membuat Sasuke dan Sakura mengangkat kepala mereka. Tidak mungkin nama itu dimiliki oleh orang lain selain sang ular yang mereka kenal. Iblis sepenuhnya dalam bentuk manusia ular, bahkan ia berjalan sampai ke negara sejauh ini dari negara api. Jika itu yang terjadi, untuk apa mereka pergi mencari sejauh itu ke Redaku.
Malam itu, Sasuke menunggu Jiji dan yang lain tertidur, diam-diam keluar dari selnya dan menuju ke halaman. Ia bertemu Sakura di depan perpustakaan.
"Kau membawa kuncinya?" tanya Sasuke pada Sakura.
Sakura menggerakkan kunci perak yang dipegang di samping wajahnya dan mengangguk, "tentu saja". Mereka berjalan menuju ruang bawah tanah untuk mencari peta astronomi dan berharap dapat menemukannya tanpa terjadi apa-apa.
Dengan mendorong pintu kuningan yang telah berkarat dan mereka mulai memasuki perpustakaan. Pintu tertutup di belakang mereka dan membuat mereka diliputi dengan kegelapan mutlak perpustakaan tanpa sumber cahaya apapun. Keduanya menyalakan chakra di telapak tangan mereka. Bergantung pada cahaya dari chakra mereka, mereka mulai berjalan memasuki arah belakang perpustakaan.
"Hey, Jiji tidur dengan baik kan?" suara Sakura memecah keheningan.
"Saat aku berjalan keluar sel, dia tidur dengan nyenyak. Kenapa kau bertanya?"
"Dia sering datang ke ruang medis. Sakit kepala, sakit perut, selalu ada alasan. Aku tidak pernah melihat keanehan saat memeriksanya, jadi aku berpikir mungkin itu alasannya untuk pergi dari pekerjaannya. Aku tidak bisa berhenti untuk sedikit khawatir tentang keadaannya."
"Dia berpura-pura. Dia sangat sehat."
Saat berkata seperti itu, Sasuke merasakan suatu perasaan yang tidak biasa di dadanya. Sebanyak apapun Jiji mencoba, dia tetap tidak percaya bahwa Sakura adalah istri Sasuke. Itu yang Sasuke percaya, paling tidak. -----------Tidakkah kau berpikir bahwa serangga buruk sepertiku akan selalu berada di sekitarnya? Kata-kata Jiji terngiang di pikiran Sasuke disertai perasaan menjijikkan, membuat Sasuke berhenti di jalannya.
"Hmm. Apa kau baik-baik saja?" tanya Sakura.
Sasuke memutar badannya menghadap Sakura, menggenggam jari Sakura. Menyentuh pangkal jari manis Sakura dan memberikan chakra di sekitarnya. Chakra yang berada di sekitar pangkal jari manis Sakura mulai terbentuk, dan berubah bentuk menjadi butiran pasir saat mengelilingi jari Sakura bagaikan cincing saturnus, butiran pasir itu berubah menjadi berwarna perak seiring dengan suara bergerinda. Perubahan chakra tersebut telah selesai.
"Tetap pakai ini," uucap Sasuke masih dengan wajah yang muram, sembari melepaskan tangan Sakura.
"Ini..."
Sakura membuka jari-jari tangannya, menatap cincin di jari manisnya yang baru saja terbentuk yang saat ini melingkar di jari manisnya. Lingkaran perak itu berkilau. Sebuah permata merah menarik perhatian Sakura. Di tengan cincin, sebuah rubi terletak di puncak cincin yang ia kenakan. Keseluruhan bahan di cincin Sakura terbentuk dari meningkatkan kemurnian substansi yang ada di tanah di sekitar mereka sampai batasnya. Sasuke sepertinya telah membuat cincin yang terbuat hanya dari keahliannya dan manipulasi elemen tanah.
Cincin yang mengelilingi jari manis Sakura, sebuah saksi pernikahan mereka. (Kyaaaa fangirling dulu)
"Terima kasih banyak."
Sasuke mulai berjalan pelan, bagaikan tidak mendengar perkataan Sakura. Sembari berjalan di belakang Sasuke, Sakura mengusap pipi merahnya dengan kedua telapak tangannya. Cincin buatan seperti ini biasanya selalu terdistrosi (mudah berubah), tetapi cincin di jari Sakura terlihat lebih jelas, lebih berkilau dan lebih indah dibandingkan semua bintang di langit malam. Cincin itu hampir lebih indah dibandingkan dengan cincin yang dibuat dengan bahan yang ditemukan secara alami, hasil dari keseriusan Sasuke dalam pengontrolan chakra.
"Sasuke-kun, apakah kau cemburu? "
Sakura ingin berkata seperti itu dan berkata dengan keras.
Aku tahu Sasuke-kun akan kurang suka apabila mengatakan secara terus terang seperti ini, lebih baikaku menyimpan di hatiku. Sakura menatap batu merah yang menghiasi jari manisnya, matanya mengecil menunjukkan kebahagiaannya.
Setelah berjalan beberapa saat di dalam kegelapan dengan hening, mereka mencapai pintu di bagian belakang perpustakaan. Sakura memasukkan kunci yang diberikan Penjira ke dalam lubang kunci, pegas di dalamnya memutar dan dengan cepat membuka pintu di hadapan mereka.
"Kemarin... saat kau dan Penjira bermain Hoshinarabe....." Sasuke mulai pembicaraan dengan canggung,
"bagaimana kau melakukannya?"
"Oh! Itu.. uhm.." Sakura yang pada saat itu menatap cincin di jarinya, dengan cepat menarik tangannya ke sisi badannya.
"Aku tidak curang, aku benar-benar mencoba melakukan yang terbaik,"
"dengan mengingat."
Dibalik pintu terdapat tangga menuju ruang bawah tanah, disejajarkan dengan ubin yang menurun. Sakura melanjutkan perkataannya.
"kartu-kartu itu sudah sangat tua. Jika ada ujung kartu yang rusak, goresan yang terlihat, atau gambar yang sedikit berbeda, aku mengingat semuanya yang ada di kartu saat aku memeriksa pola kartunya."
"Keseluruhan dari 60 kartu?"
"Ya. Tapi putaran pertama aku memang curang, aku mempelajari kemampuan itu saat aku bekerja bersama Tsunade-sama." Ucap Sakura merasa bernostalgia.
"Tsunade-sama sangat buruk dalam berjudi, tetapi dia benci kekalahan. Jadi, saat pertama aku membiarkan dia menang, tetapi kemudian ia tetap meminta bermain.. tetapi, menjadi sedikit menarik saat aku memenangkan permainan dengan hasil seri, melihat wajah Tsunade-sama memucat dan mengakhiri permainan."
Sakura bukan merasa bosan, tetapi takut apabila Tsunadesama kalah olehnya. Mereka telah sampai di dasar anak tangga sebelum Sakura berhenti mempertimbangkan untuk mengatakan hal itu.
Rak-rak buku terhiasi oleh sarang laba-laba, gulungan besar dan kecil terselip diantara buku-buku dan dokumen-dokumen yang terikat dengan berbagai macam ukuran dan bentuk. Untuk sebuah kumpulan dokumen yang sangat penting dalam pengawasan ketat, koleksi buku, gulungan dan dokumen di sini terlihat tidak terurus dengan baik.
Untuk mengantisipasi adanya jebakan, Sakura menyentuh dinding ruang bawah tanah, melepaskan chakra di permukaan bangunan. Dengan mengikuti pergerakan chakranya yang dimasukkan ke dalam dinding, Sakura mendapatkan penggambaran kasar dari struktur bangunan mereka berada.
"....apakah itu..."
"Ada apa?"
"Sepertinya ada bangunan lain di balik dinding itu."
Sakura mengalihkan pandangannya ke dinding belakang, menuju arah gedung utama. Menutup matanya untuk memfokuskan pada aliran chakra. Sebuah teknik untuk mengeksplor struktur sebuah bangunan dengan mengikuti aliran chakra melalui material-material anorganik merupakan suatu yang unik bagi Sakura, seorang ahli dalam pengontrolan chakra.
"Ada tangga memutar yang terhubung dengan ruangan direktur, lantai empat."
"Tangga di gedung utama tidak mungkin lebih rendah dibandingan lantai satu.. apa menurutmu ada ruangan tersembunyi, tertutupi oleh dinding di ruang bawah tanah ini?"
Ruang bawah tanah kedua itu hanya dapat dimasuki dari ruangan direktur, inti dari ruangan yang tersembunyi.
"Sangat mencurigakan, mungkin untuk menyimpan sesuatu yang sangat penting."
"Kita akan menginvestigasi itu nanti, ada banyak hal yang tersembunyi di sini."
Sasuke penasaran dengan keadaan ruang bawah tanah kedua yang misterius, tetapi sekarang adalah waktu untuk mencari peta astronomi. Tangan Sakura meninggalkan dinding rung bawah tanah disaat ia berjalan diantara rak-rak buku, mencari rak buku yang tertulis di katalog.
"Ini dia! Ini peta astronomi."
Di dalam rak berlabel "I", Sakura menarik buku besar berwarna biru tua. Sampulnya diwarnai dengan pigmen kuno dari suatu mineral, membuatnya menjadi kasar saat disentuh. Sampul belakangnya terhiasi 4 karakter yang dapat dibaca.
"Peta Astronomi," ditulis dengan warna emas.
"Aku berharap buku ini dapat memberikan kita beberapa petunjuk."
Tangan Sakura mulai membalikkan sampul tebal sembari bergumam.
"......Sai?"
Sasuke refleks melihat ke halaman yang Sakura baca dari belakang Sakura, saat Sakura secara tidak sengaja menggumamkan nama seorang teman dari desa. Di halaman tersebut terdapat gambar yang digambar dengan tinta. Sebuah gambar Tanuki dewasa dan Anak tanuki bermain di gundukan pasir digambar dengan sapuan kuas yang mengalir bagaikan air.
Saat wajah Sakura semakin mendekat ke halaman tersebut, ia dapat mencium aroma perekat dicampur dengan minyak. Ia mengetahui aroma itu saat menjalankan misi dengan Sai. Gambar tinta milik Sai dibuat dengan mengencerkan tinta dengan minyak dan air, metode melukis dari Konoha.
Sepengetahuan Sakura, metode melukis seperti itu tidak mungkin ada di Redaku.
"Apa buku ini.. sebenarnya dibuat di luar negara ini? Apa mungkin seseorang yang berasal dari luar Redaku datang ke sini dan mengilustrasikannya?"
"Orang yang berasal dari luar, ia tinggal di sini pada dahulu kala..."
Orang yang sama muncul di pikiran mereka. RikudÅ Sennin. Dia melukis gambar itu disini, lalu membawa teknik melukis itu ke negara api untuk diturunkan sampai saat ini. Melihat fakta yang terdapat di institut astronomi ini, bukan tidak mungkin adanya teori ini. Lukisan tinta tanuki bermain di gundukan pasir berada di halaman pertama. Halaman selanjutnya terdapat raksasa, lalu diikuti kayu api unggun, lalu kucing, monyet, manusia, gembala- Setelah membalikkan sampai halaman terakhir, Sasuke memastikan dengan bergumam,
"gambar yang sama dengan Hoshinarabe."
Tanuki dewasa dan tanuki anak-anak bermain di gundukan pasir, raksasa yang muncul dari bumi, kayu api unggun berwarna jingga, kucing yang menatap api lentera, monyet yang menggambar menggunakan ranting, sapi yang melihat dari kandang, lelaki tua berambut abu-abu, gembala menatap langit, kura-kura di gunung berbatu, kuda putih berenang di laut, kodok dan siput muncul dari rawa, batang kayu yang tertutupi getah. Tidak ada keraguan bahwa ilustrasi tinta tersebut sesuai dengan gambar kartu di Hoshinarabe.
"Tapi aku tidak paham, apa hubungan antara kedua belas gambar ini dengan keberadaan tentang partikel kutub?"
Tangan Sakura yang sejak awal mengusap gambar tinta, berhenti. Setelah melihat lebih jelas, titik-titik kecil tersebar di setiap gambar yang digambarkan dengan menggunakan ujung kuas.
Beberapa gambar, seperti tanuki dan kura-kura, digambar dengan tujuan titik dan garisnya tumpang tindih, seperti gambar tersebut berhubungan seperti puzzle "sambungkan titiknya".
"Ini bukan hanya lukisan tinta. Ini adalah rasi bintang."
"Rasi bintang?"
"Susunan bintang. Mereka tersusun untuk terlihat seperti sebuah tanaman atau seekor binatang. Lihat. Seperti di Konoha seperti Aries dan Leo. Sasuke-kun lahir di tanggal 23 Juli, jadi Sasuke-kun adalah leo."
Sembari menjelaskan, Sakura membuka halaman dengan gambar siput. Lima titik tersusun dalam pola zig zag di antenna siput.
"Lihat di lima titik ini"
Hokuto Gosei adalah nama dari lima rasi bintang yang dapat dilihat di musim semi dan sampai musim panas. Dan sepertinya konsisten dengan garis dan titik yang digambarkan di gambar.
"Aku mengerti..... dari musim semi sampai musim panas. Siput ini, apakah rasi bintang ini mempresentasikan suatu tempat?"
"Karena ada 12 rasi bintang, aku berpikir bahwa setiap rasi bintang ini menggambarkan apa yang dapat dilihat di langit di setiap bulan, Januari sampai Desember. Jika kita menyusun gambar ini sesuai dengan urutannya, mungkin kita akan mendapatkan petunjuk."
"Menyusun? Itu akan memakan waktu."
Redaku terletak sangat jauh dari Konoha, langit di atas Redaku terlihat sangat berbeda dengan Konoha. Sasuke mengernyit sementara Sakura mengatakan dengan santai, "oh. Tenang saja," dan melihat tumpukan materi yang tersusun di ruangan tersebut.
"Ada banyak data tentang observasi astronomi di sini. Jika kau dapat memberikanku waktu selama 2 hari, kurasa aku dapat memberikan urutan gambar-gambar ini dari data observasi berdasarkan bulan, aku cukup dapat diandalkan."
Sasuke benar-benar terkesan, lalu meletakkan peta astronomi tersebut di podium. Jika ia menyerahkan permasalahan ini pada Sakura, ia tahu bahwa Sakura akan dapat menyusun gambar tersebut sesuai dengan urutannya. Lebih penting lagi, ia mengingat kembali setiap gambar yang ada di kartu, mengingat setiap hewan yang tergambar di kartu.
Raksasa.
Tanuki.
Kucing.
Monyet.
Sapi.
Kura-kura.
Kuda putih.
Katak dan siput.
Ada juga gembala dan lelaki tua, yang lain adalah batang kayu bergetah dan kayu api unggun.
Sasuke merasa ia telah melihat gambar-gambar ini sebelumnya. Telah melihatnya selain di kartu Hoshinarabe. Di suatu tempat di masa yang telah lampau, dia seperti telah melihat sesuatu seperti lelaki tua, kucing, kura-kura atau monyet.
"Sasuke-kun, apa kau menemukan sesuatu?"
"Tidak. Bukan apa-apa."
Saat Sasuke menutup buku, ia menyadari sesuatu terselip dibalik sampul.
"Hmm.."
Secarik kertas terlipat. Sebuah kalimat pendek dengan beberapa karakter tergores.
Xbulanxhari. Ada lebih banyak bintang. Suatu deskripsi yang misterius dan samar.
Namun, bukan kalimat tersebut yang menarik perhatian mereka, tetapi figur yang tergambar di bawahnya. Itu adalah sebuah figur dari karakter yang biasa mereka lihat. Di Konoha, siapapun yang menggunakan emblem ini dikenal sebagai shinobi yang matang bahkan mengenakannya di tempat yang paling menonjol di tubuh mereka.
Sasuke mengingat mempelajari arti dari simbol itu di akademi, berasal dari shinobi yang berlatih dengan meletakkan daun di kepala mereka untuk memusatkan energi. Simbol dari desa Konoha yang melambangkan putaran dari daun yang jatuh.
"Apa... kenapa simbol Konoha ada di sini?"
Mereka saling memandang satu sama lain, tidak dapat berkata apapun.
Emblem desa mereka ditemukan di tempat yang terpencil dan jauh di institusi astronomi, bahkan di dokumen astronomi yang tertulis di waktu yang telah sangat lama berlalu. Kalimat yang menceritakan bertambahnya bintang, emblem Konoha, institusi Astronomi. Sasuke dan Sakura tidak dapat menemukan penjelasan apapun yang mengikat, ketiga hal ini memiliki elemen yang sangat berbeda.
Keesokan harinya, di koridor menuju ruang makan, Sakura membawa beberapa lembar kertas dengan erat di tangannya. Ia bergerak menyebrangi ruang makan menuju ke meja kosong untuk menyebarkan semua kertasnya untuk Sasuke. Peta astronomi yang mereka dapat kemarin, telah dipilah berdasarkan bulan. Sakura telah berhasil mempelajari waktu observasi dan tiap rasi bintang dalam satu malam.
Januari : Tanuki yang bermain di gundukan pasir
Februari: Kucing yang menatap lentera
Maret: Kura-kura di gunung berbatu
April: Monyet yang menggambar di tanah menggunakan ranting
Mei: Kuda yang berenang di laut
Juni: Kodok dan siput di rawa
Juli: Batang pohon tertutupi getah
Agustus: Sapi menatap dari balik kandang
September: Kayu api unggun jingga
Oktober: Raksasa muncul dari bumi
November: Gembala yang melihat langit
Desember: Lelaki tua berambut abu-abu dengan tongkatnya
Hewan ditandai bulan dari Januari hingga Agustus, September ditandai dengan api unggun, Oktober Raksasa, November dan Desember keduanya ditandai dengan manusia. Dibalik secarik kertas, ada catatan kecil: Besok, ruang arsip, 1400.
Comments
Post a Comment