Sasuke berencana untuk menebas kepala monster-monster yang ada dengan Susanoo atau Chidori miliknya. Namun, ia mengurungkan niatnya setelah melihat Menou berdiri di hadapannya, melindungi Sasuke.
"Menou,aku akan mengalihkan yang kecil, kau akan melawan yang terbesar diantara mereka." Menou menaikkan ekornya dengan penuh percaya diri.
Sasuke melemparkan Menou ke arah Titan dan mendarat dengan rahangnya terlebih dahulu tepat di belakang ekor titan.
Menou lanjut berjalan mulai dari ekor titan menuju ke arah Zansūru berada bagaikan berjalan di tali kecil "Oi..jangan biarkan Menou mendekat." Zansūru berteriak pada titan, tetapi Menou berada di titik buta dari monster besar itu. Secara fisik, leher Titan tidak dapat mencapai Menou yang berada di ekornya.
"Pterousaurus! tolong aku!"
Pterosaurus terbang turun dari langit menuju Zansūru setelah mendengar perintah dari Zansūru. Dalam waktu singkat, Zansūru telah menghilang di langit. Cakar Menou mengayun dari atas mencakar tulang belakang Titan.
Monster Titan itu mengaum, memutar tubuhnya dan mencoba menjatuhkan Menou dari tubuhnya. Sebelum terjatuh, Menou melompat turun ke tanah dan berlari kembali ke Sasuke. Zansūru mendorong kacamatanya ke tempat semula sembari menarik nafas.
"Menou, seandainya kau tidak menambah masalah."
Zansūru merasa kesal karena tidak lagi dapat mengontrol Menou. Sasuke tetap berdiri tegap di atas tanah, menghabisi kekuatan perang milik Zansūru. Zansūru berdecak kesal. Setelah ia turun dari sayap monster yang ia duduki, Zansūru berteriak lantang.
"Apa yang kalian tunggu? Aku perintahkan! Bunuh Sasuke!"
Setelah ia berkata seperti itu, semua yang berada di jarak pandang Sasuke berubah menjadi medan perang. Sasuke mengalihkan monster-monster itu kepadanya, dengan sigap menghindari monster- monster di sekitarnya yang berakibat monster-monster itu menimbulkan kekacauan bagi mereka sendiri.
Dinosaurus ptesaurus sangat menyadari bahwa jumlah mereka yang banyak akan memberikan keuntungan bagi Sasuke, tetapi mereka tidak mampu untuk melawan perintah Zansūru. Kilat menyambar monster tempat Zansūru berada, menjatuhkannya sebelum mencapai Sasuke.
"Aku tidak akan memaksakan menggunakan rahang monster-monster ini, tidak akan ada hal baik
yang datang dari itu,"
Zansūru berbicara seakan memprovokasi Sasuke saat Sasuke menggunakan elemen angin untuk menangkap monster yang terjatuh itu.
"Jiji yang menggunakan jutsu pembangkit ini. bukan dirimu."
"Omong kosong apa itu.." Garis biru muncul dari dahi Zansūru.
Menou telah menarik monster Titan menuju Sasuke.Melangkah dengan lincah di atas batu-batu saat mereka melewati tebing miring. Titan bukanlah tipe monster yang dapat beradaptasi untuk mengubah arah dengan mudah. Setiap langkahnya meruntuhkan bebatuan yang ada di bawahnya, membuatnya sempoyongan saat mengejar Menou. Sasuke melompat ke atas Tairano, untuk memastikan Menou telah mencapai danau di bawah sebelum berteriak pada Menou.
"Potong tendonnya!"
Merespon terhadap suara Sasuke, Menou mengubah arahnya. Berlari di bawah Titan menuju kaki belakang Titan, lalu menggitinya dengan kuat menggunakan taringnya. Tanpa memberikan waktu pada Titan untuk merespon, pergelangan kakinya robek sampai menunjukkan tulangnya.
Titan tersebut terjatuh karena tidak mampu menahan beban tubuhnya. Hempakkan besar naik sampai ke langit saat Titan terjatuh di dalam danau.
"Terima kasih atas bantuanmu, keluar dari sana secepat mungkin!"
Monster besar itu berhasil mengangkat tubuhnya kembali, namun dasar dari danau bagaikan rawa berlumpur yang tak mampu menahan beban dari titan, menenggelamkannya ke dasar yang berlumpur. Hanya kepalanya yang muncul dari atas danau.
"Sial! Tubuh besarnya tidak dapat keluar.."
Zansūru benar-benar terganggu. Dia pun meneriakkan perintah pada pterosaurus.
"Oi! Turun dan angkat titan keluar!"
Zansūru tidak menyadari bahwa ia baru saja memberikan perintah yang fatal. Mustahil bagi para monster untuk menerima banyak perintah dari orang yang bukan pengguna Jutsu.
"AHHHHH!!"
Tubuh Zansūru hancur bagaikan bunga merah tua saat tubuhnya dihantamkan ke bebatuan. Tubuhnya terguling menuruni tebing. Semua terjadi karena Zansūru menghiraukan tentang Jutsu pembangkitan. Dengan kematian Zansūru, monster-monster lain mulai mengincar para tahanan.
"Menou, kembali ke institut."
Seekor burung terbang turun ke arah Sasuke tepat saat Menou pergi. Elang Kakashi. Ada kecil yang terikat di kakinya.
"Sebuah pesan... disaat seperti ini."
Sasuke tidak menghabiskan waktu lagi. Tulisan tangan yang sangat ia kenal menuliskan bahwa kudeta yang dilakukan Kakashi telah berhasil dan ia akan menuju ke ibukota dengan raja yang baru.
Kakashi bahkan terkesan tenang setelah menyelesaikan situasi ini, ceritanya tentang Nanara dan gadis kuil yang selalu menemaninya tertulis di bawahnya.
"Apakah permasalahan di desa Nagare telah diselesaikan?" Sasuke bergegas menuju institut sembari memasukkan pesan dari Kakashi ke sakunya.
-------------------------------
Sakura menyerang monster-monster yang datang di hadapannya tanpa henti untuk memberikan waktu pada para tahanan untuk melarikan diri. Saat seekor monster berbentuk burung menaikkan kakinya ke udara, Sakura meraih kaki monster itu dan melemparkannya ke tanah di belakangnya.
Dua tahanan datang berlari ke tubuh monster yang terjatuh itu, mencoba untuk menaiki tubuh monster tersebut bagaikan menaiki punggungnya. Mereka adalah Ganno dan Penjira. Ganno dan Penjira menahan tubuh monster itu sembari memukulkan cangkul ke tubuh monster itu.
"GYA!"
Monster itu bereaksi dengan mencoba untuk membalas, namun tak mampu untuk berdiri saat lututnya dihancurkan. Lutut yang sudah dihancurkan itu tertutupi kabut dan dengan cepat meregenerasi. Dengan putus asa untuk menghentikan regenerasi itu. Ganno dan Penjira dengan marah memukulkan cangkul tersebut ke monster itu.
"Jangan! Menyembuhkan! Berhenti! Jangan sembuh!"
Mulut Penjira tertutup saat Sakura mengatakan bahwa itu berlebihan. Bagi para tahanan, naga-naga tu merupakan monster yang kuat, namun monster-monster itu berusaha untuk menghindari kematian yang tidak dapat dihindari.
Banyak monster, yang seperti burung dan yang berkepala seperti kubah adalah herbivora, mereka bahkan tidak memiliki kemampuan untuk memburu para tahanan. Mereka masih belum mampu untuk menahan perintah sang direktur untuk membunuh para tahanan bahkan saat mereka ingin menahan perintah itu.
"Haaaa!"
Sakura meneriakkan teriakan penuh dengan energi bertarung, lalu menangkap tubuh pterosaur yang terbang ke arahnya. Hal yang sama juga dapat dikatakan terhadap ptesoaur. Tubuh mereka sangat ringan dengan berat tidak lebih dari 10 Kg dan tingginya tidak lebih dari 10 meter, tubuh mereka berevolusi untuk terbang. Senjata mereka hanyalah paruh runcing mereka, yang telah tumpul sampai tidak dapat digunakan kembali setelah memecahkan tempurung kepala beberapa tahanan.
Namun, mundur tidak diperbolehkan. Hanya kematian. Jiwa yang terperangkap dalam edo tensei, patuh secara sepenuhnya terhadap pemanggilnya. Sakura dan pterosaur bertarung untuk beberapa saat. Sakura mendapat keuntungan karena monster itu berusaha untuk melarikan diri. Beberapa tahanan melompat di atas monster itu dan menahan sayapnya, membuatnya tertahan di tanah.
Pterosaur itu menyerang secara mematikan. Dengan keras mematuk kepala para tahanan, tetapi tidak ada yang melepaskan pegangan mereka walaupun telah berdarah. Monster itu mulai melolong untuk meminta tolong, tetapi itu tidak berguna. Tulang punggungnya yang telah hancur akibat pukulan para tahanan memaksanya untuk berhenti bernafas.
Para tahanan berusaha untuk menahan penyembuhan dari monster itu, sementara monster itu tidak dapat mati dan terus menyembuhkan diri. Untuk kedua pihak, itu adalah siksaan yang tiada henti, kecuali Jutsu itu dibatalkan.
Aku harus menemukan Jiji dan melepaskan Jutsu ini. Setelah ia berpikir untuk menemukan Jiji, Sakura menjadi pusing. Ia dapat merasakan haus darah dari belakangnya saat ia terjatuh di sampingnya. Sebuah kunai menusuknya dengan dalam.
"Jiji...."
Sakura melemparkan reruntuhan seukuran dirinya ke arah Jiji. Jiji mengeluarkan sebuah pedang dan memotong reruntuhan itu dengan satu kali ayunan. Melihat kembali ke arah reruntuhan yang telah terjatuh, Sakura sudah tidak berada di sana.
"Apa kau melarikan diri? "
Jiji menggelengkan kepalanya.
Pertarungan ini... menghabiskan waktu. Seekor pterosaur di langit melihat Sakura berada di sisi tebing, memberikan sinyal ke Jiji ke arah Sakura. Pergerakan Sakura menjadi lambat, tidak jelas bagaimana ia bisa keluar dari institusi tersebut, sedangkan Sakura masih merecover dirinya dari luka.
Jiji membentuk sebuah segel tangan sembari berlari lalu meletakkan tangannya ke tanah.
"Doton: Doryūheki" Jiji berhasil mengejar Sakura. Sakura lalu menatap Jiji.
"Apa maksud semua ini?"
Ada teriakan dari kejauhan. Tidak dapat dibedakan antara teriakan manusia atau monster.
"Manusia dan para monster itu! Mereka semua menderita. Kenapa kau melakukan ini?"
"Sensei.. aku tidak akan menahan diri untuk menusukmu untuk kedua kalinya."
Kata-kata itu merupakan perasaan Jiji yang sesungguhnya. Dia ingin Sasuke dan Sakura menderita. Bahkan jika diharuskan, ia akan membunuh mereka.
Seperti yang kukatakan pada Sasuke, jangan tinggalkan istrimu sendirian. Sakura berdiri tegak. Punggungnya menyentuh dinding. Jiji berjalan mendekati Sakura.
BAM!
Ada suara, bagaikan sesuatu yang meledak. Tiba-tiba Jiji merasakan bahwa dirinya tidak dapat bergerak. Jiji terjebak di segel jebakan yang telah dibuat oleh Sakura.
"Sial.."
Jiji mencoba mengeluarkan kunai dari lengan bajunya dan mencoba memotong benang chakra, tetapi benang tersebut hanya mengeluarkan chakra yang tersimpan di dalam segel itu, membuatnya tidak dapat dirusak. Sebuah segel dalam bentuk kelopak bunga sakura muncul di pergelangan tangan Jiji.
"Kapan.. aku mendapatkan segel ini?"
"Saat kau datang ke ruang medis sebelumnya. Hanya untuk berjaga-jaga."
Sakura mengatakan dengan tenang, "Aku adalah seorang dokter, aku bisa melihat apakah kau pengguna chakra atau bukan." Jiji mencoba untuk melepaskan diri. Dengan segera, Jiji menyadari bahwa mustahil bagi dirinya untuk melarikan diri dengan kekuatannya, akhirnya ia berhenti bergerak.
Jiji berusaha untuk mencari strategi memenangkan ini tiba-tiba ia merasakan keberadaan chakra besar dibalik kekacauan yang terjadi di belakangnya.
Lututnya menjadi lemas dengan tekanan dari chakra yang berada di belakangnya, kemungkinan dirinya untuk mencapai kemenangan menjadi hilang dalam sekejap.
"Jiji, pengguna dari Jutsu pembangkit.. itu adalah kau."
Sebuah suara yang rendah berbicara dari belakangnya. Menou berdiri di belakangnya bersama dengan teman satu selnya, Sasuke.Sasuke menjulurkan tangannya menuju saku milik Jiji, mengambil kembali tempat berisi partikel kutub.
Lebih jauh di dalam saku, terdapat tempat penyimpanan plastik dengan cairan berwarna kuning.
"Apa ini racun yang kau gunakan pada Sakura dan diriku?"
Rasa amarah memasuki Sasuke, Sasuke mengangkat wajahnya dan mengaktifkan Sharingannya. Jiji menarik nafas melihat mata Sasuke.
"Mata itu... kau.. kau Uchiha. Tentu saja, Zansūru tidak dapat mengalahkanmu. Apakah hal yang sama akan terjadi padaku? Siapa yang akan menang?"
"Aku akan memasukkanmu dalam Genjutsuku. Kau akan menyukainya. Aku tidak ingin kau terbangun sampai kehidupan ini berakhir."
"Aku tidak peduli dengan neraka apa yang akan menungguku di Genjutsumu. Aku pantas mendapatkan apa yang terjadi, tapi aku punya satu hal yang aku minta sebelum kau menampatkanku dalam ilusimu."
Sasuke menonaktifkan Sharingannya. Menurunkan nadanya dan bertanya,
"Apa tujuanmu? Zansūru akan menggunakan monster-monster itu untuk berperang, tapi itu bukan tipe dirimu.”
"Tipe diriku?"
"Tipe yang akan bertindak untuk kepentingan suatu negara."
Jiji tertawa.
"Walaupun ini terlihat subjektif, mungkin kau setuju dengan kepercayaan Zansūru dan bekerjasama."
Sasuke lanjut bertanya, "lalu, kenapa kau menolong Penjira saat Menou menyerangnya? Jika kau ingin membunuh semua tahanan, kenapa kau menolong Penjira? Apakah perasaanmu terhadap Penjira berubah? Apakah kau gagal menjadikan Menou senjata pembunuh?"
"Bukan keduanya. Menou bereaksi secara insting. Walaupun Penjira dan aku berada di satu sel yang sama, bukan berarti aku memiliki perasaan apapun padanya. Bahkan, beberapa saat yang lalu, aku melihat dengan diam saat Ganno hampir mati. Tapi..."
Sasuke menatap Jiji
"Tubuhku bergerak dengan sendirinya."
Sewaktu-waktu, perasaan yang tak dimaksudkan dapat membuat seseorang melakukan tindakan yang tidak terduga. Sasuke teringat kembali saat ia berdiri di hadapan Naruto untuk menahan jarumjarum dari Haku. Sasuke tidak berpikir bahwa Jiji memilik emosi yang sama dengan Sasuke dan Naruto dengan Menou, Ganno ataupun Penjira, namun Jiji mungkin memiliki suatu ikatan dengan mereka.
"Zansūru telah mati. Kami akan menyerahkanmu ke pihak Redaku,lalu kembali ke negara kami, tetapi sebelum itu, katakan permintaanmu."
Jiji memandang Menou dan kembali melihat Sasuke.
"Rencana ini juga sudah gagal. Sebenarnya, aku merupakan Shinobi Sunagakure. Tetapi perdana menteri Redaku mengundangku untuk ke ibukota. Itu terjadi saat sang raja masih hidup. Perdana menteri berniat untuk membuat suatu daerah khusus untuk shinobi yang telah pergi dari desanya. Jadi, mereka memintaku untuk mengajarkan Ninjutsu. Saat tinggal di istana kerajaan, Perdana Menteri bahkan memberikan pelayan untukku. Berjalannya waktu, aku jatuh cinta padanya. Dibandingkan terlibat dalam perang, aku lebih memilih untuk bersamanya, untuk tinggal Bersama dengannya selamanya di Redaku."
"Apakah perdana menteri mengetahui itu?" Sakura bertanya, Jiji memberikan anggukan kecil.
"Aku berpikir apakah ada yang melihat kami saat kami bersama."
"Sebagai gantinya, kau harus bekerjasama dengan Zansūru?"
"Yeah. Zansūru merupakan arkeolog di istana kerajaan. Dia berhasil memecahkan buku yang berisi tentang bagaimana untuk membangkitkan yang telah tiada. Walaupun ia tahu bagaimana untuk menggunakan Jutsu ini, tetapi ia tidak memiliki Chakra untuk melakukannya. Untuk itulah aku dipanggil, untuk melakukan Jutsu pembangkitan. Jika aku bekerjasama dengan Zansūru, dia berkata bahwa aku akan dapat bersama dengan orang yang aku cintai. Aku berjanji padanya.... setelah aku menyelesaikan misiku yang jauh, aku akan bertemu dengannya di ibukota lagi.. tetapi... setahun kemudian, dia tewas."
Jiji menatap tanah di bawahnya dengan ekspresi penuh dengan kesedihan sebelum melanjutkan.
"Aku bersalah. Tidak seharusnya aku meninggalkan apa yang penting bagiku. Aku tidak seharusnya meninggalkan dia sendirian. Sasuke... itu yang aku coba katakan padamu. Kau tidak bisa meninggalkan istrimu. Itu merupakan perasaanku yang sesungguhnya. Manusia.. pasti akan meninggal."
Menou membuat suara rendah dari tenggorokannya. Jiji melihatnya, apakah dia mengerti cerita Jiji atau tidak, Menou duduk mendengar cerita Jiji.
"Pada awalnya, Menou dibangkitkan hanya untuk mengawasi para tahanan. Mereka hanya menyampaikan tujuan mereka setelah aku mengetahui bahwa kekasihku telah tewas. Menggunakan monster sebagai senjata. Tentu saja, pada awalnya aku menolak melakukannya. Lalu, Zansūru dan Perdana Menteri berjanji untuk memberikanku bayaran."
"Bayaran?"
"Jika aku mau melakukan Jutsu pembangkitan itu, dan jika tubuh kekasihku dapat ditemukan, aku dapat membangkitkannya dengan Jutsu ini."
"Kau akan membangkitkan kekasihmu dengan jutsu pembangkitan ini?" Sakura bertanya dengan ekspresi sedih.
"Sensei, jangan memandangku seperti itu. Aku sangat ingin bertemu dengannya, untuk terakhir kali. Walaupun itu dengan menggunakan Jutsu terlarang. Sasuke... jika kau berada di posisiku, akankah kau melakukan hal yang sama?"
".........................."
Sasuke tetap diam, dia benar-benar tidak dapat menjawab kalau dia tidak akan melakukan hal yang sama.
Aku teringat saat aku bertemu kembali dengan Itachi, saat ia dibangkitkan dengan Edo Tensei merupakan memori yang tak dapat tergantikan. Hanya beberapa saat berbicara dengannya dapat menghapuskan kesalahpahamanku. Walaupun itu hasil dari Edo Tensei.
Jika aku kehilangan istriku.......siapa yang dapat memastikan aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama dengan yang dilakukan Jiji.
"Yeah... aku juga akan melakukan hal yang sama," Sakura menjawab, "jika aku kehilangan Sasukekun dan kesempatan untuk menggunakan Edo Tensei ada di hadapanku. Aku mungkin akan mecobanya. Apapun hanya untuk bertemu dengannya."
"...begitukah?..." Kau menyadari perasaanku.
Perkataan Jij terhenti dengan kata-kata Sakura, "tetapi"
"hanya karena kami tidak dapat bersama lagi, bukan berarti aku sendirian. Teman-tema nku akan menghentikanku dan mengatakan betapa bodohnya aku. Kami menghentikanmu untuk alasan yang sama. Memaksanya menggunakan Jutsu pembangkitan... Margo tidak akan menginginkannya."
"Margo?"
Sasuke bereaksi mengangkat wajahnya. Margo adalah nama kekasih Jiji. Surat yang baru kudapatkan berada di sakuku.
"Jiji.. kau berada di sini selama lebih dari satu tahun. Bagaimana kau tahu bahwa Margo telah tewas?"
"Surat kematiannya diantarkan padaku. Suatu penyakit epidemic telah membunuhnya. Diitandatangani oleh perdana menteri sendiri."
"Perdana menteri sendiri adalah sekutu dari Zansūru," Sasuke menunjukkan surat Kakashi pada Jiji.
"Tertulis di surat ini yang aku terima dari temanku. Raja baru Nanara mengalahkan kediktatoran perdana menteri menyerahkan kewenangannya kepada ratu di ibukota. Ada keterangan di bawahnya. Seorang wanita bernama Margo telah membantu dan menemani raja baru itu, dia adalah pelayan di istana kerajaan, membuatnya menjadi orang yang dapat dipercaya. Dia sangat memahami keadaan sesungguhnya."
"huh?"
Informasi dari sumber yang dapat dipercaya. Mata Jiji mengikuti setiap huruf yang tertulis, tubuhnya mulai bergetar mendengar informasi yang didapatnya. Akhirnya, Jiji menyadari bahwa dirinya telah dikelabui selama ini. Margo masih hidup. Bagaimana mungkin ia tidak menyadari bahwa dirinya telah digunakan oleh Zansūru?
Air mata Jij menetes di tanah. Lalu, tiba-tiba terdengar suara geraman. Jiji mengangkat wajahnya. Seekor monster karnivora berjalan pelan di belakang Sakura, menyadari itu. Jiji merendahkan tubuhnya dan dengan keras menendang tanah membuatnya berada di udara.
"Sensei!"
Jiji membuat beberapa segel tangan di depan dadanya. Tikus. Lembu. Monyet. Harimau. Babi. Naga. Segel untuk menggunakan jutsu pembangkitan. Saat Jiji selesai membuat segel, Sakura telah bereaksi dengan mengarahkan tinjuannya ke rahan monster itu.
BAM!
Monster itu berdiri dari tanah dengan cepat, tetapi kulit di ujung hidungnya mulai mengelupas. Monster-monster itu tidak lagi terjebak di dalam Jutsu pembangkitan.
Menou mengeluarkan suara dari tenggorokannya untuk mengucapkan selamat tinggal. Menenangkan dan mengusapkan kepalanya di perut Sasuke sambil menggoyangkan ekornya.
"Pulanglah Menou."
Sasuke menggosok dagu Menou saat ia mengecilkan matanya kesenangan dan mengeluarkan hembusan nafas terakhirnya. Ia berusaha untuk tetap dekat dengan Sasuke saat tubuhnya mulai menghilang.
"Selamat malam."
...............
Monster karnivora yang sebelumnya menyerang Sakura mencoba bertahan dari kematiannya. Setengah dari tubuhnya telah menghilang, tapi dia belum menyerah. Memanjangkan ekornya dan memaksa tubuhnya untuk bergerak.
Monster itu menendang tanah di bawahnya dan mendarat di Jiji. Apakah itu pembalasan atas jutsu itu, atau itu hanyalah insting dari seekor predator? Jiji menjadi tidak waspada setelah melepaskan jutsu, reaksinya melambat.
Darah segar keluar dari tubuhnya. Cakar tajam monster itu menembus dada Jiji, ujung dari cakar itu berakhir di tenggorokan Jiji.
"Jiji!"
Monster karnivora itu telah berhasil membalaskan dendamnya, saat tubuhnya telah menghilang. Sakura bergegas memotong benang chakra, Sasuke menahan tubuh Jiji yang terjatuh dari belakang. Tangan Sakura mencoba untuk mengobati luka Jiji dihentikan oleh tangan Jiji yang tertutupi darah.
"jangan....sembuhkan...aku"
"Diamlah!"
Sakura menggunakan chakra walaupun Jiji melarangnya.
"Kau ingin bertemu dengan Margo, kan? Bagaimana kau akan melakukannya jika kau mati?"
"ini...semua... yang bisa.. kau lakukan.."
Pandangan Jiji menjadi gelap.
"paling tidak.... aku.. tidak memiliki... pesaing.. lagi."
Darah menutupi tenggorokannya. Jiji bahkan tidak memiliki kekuatan untuk mengeluarkannya. Jiji bagaikan tenggelam dalam air. Jiji tidak menahan lagi saat tubuhnya menjadi semakin berat dan berat, dan akhirnya menutup matanya.
Untuk berpikir bahwa dia akan mati sendirian, semua yang ingin ia lakukan adalah tertawa. Saat ia mengetahui bahwa Margo telah tewas, dia merasa ingin tewas juga. Meninggalkan Margo sendirian, tidak mampu bersamanya. Dia berpikir Margo tewas karena dia tidak ada di sana bersamanya untuk melindunginya. Tapi, itu semua hanya keangkuhannya.
Disuatu tempat, dari kejauhan ia masih mendengar Sasuke dan Sakura memanggilnya. Pasangan ini, dia tidak dapat merasakan apapun kecuali rasa iri. Jika ia memiliki sedikit kekuatan dari yang mereka miliki, dia tidakakan melakukan ini. Apa yang nyata, bukanlah hanya apa yang dapat dilihat. Sekarang sudah terlalu terlambat untuk menyadari itu. Di dasar dari kesadarannya yang sekarang telah menjadi gelap.
Margo memangil.
Comments
Post a Comment